Pernah mendengar nama Benedict Anderson!?
Ia adalah seorang ahli tentang Indonesia atau Indonesianis dan Profesor dari
Cornell University, AS. Sejak lama, apalagi masa Soeharto, Ben Anderson selalu
memberi kritik tajam ke pemerintah dan gaya pemerintahan di Indonesia. Dan
gara-gara kritik tajam tersebut, Ben Anderson menjadi orang yang tak disukai oleh rezim yang berkuasa.
Kali ini, sekali lagi Ben Anderson
berbicara tentang Indonesia.
Para politisi Indonesia sekarang juga
terlihat mempersiapkan keluarga dan anak untuk meneruskan kepemimpinan; para
politisi itu tak ada apa-apanya kecuali mendompleng nama bapak dan suami dan
itu cermin feodalisme serta cermin kemauan pemimpin yang gila-gilaan seperti di
Korea Utara.
Politik istri atau putra-putri mahkota itu
cermin feodalisme dan cermin kemauan pemimpin yang gila-gilaan seperti di Korea
Utara. Negara itu komunis tapi pemimpinnya turun-temurun sampai tiga generasi.
Ketimbang membagi kekuasaan kepada orang lain, lebih baik membagi kepada anak
sendiri meski berotak ayam
Sejauh ini dinasti politik yang muncul
antara lain dinasti atau trah SBY, Amien Rais, Megawati Soekarnoputri,
Gus Dur, Habibie dan Soeharto, dimana istri dan putra-putri mereka terjun ke
politik dengan mendompleng ketenaran suami atau bapak. Di daerah gejala serupa
terjadi antara lain di Banten dan Sulsel.
Perubahan ini perlu waktu. Orang DPR pada
umumnya merupakan hasil zaman Orde Baru. Mental politiknya persis sama. Ben
menuturkan, formasinya di zaman Soeharto adalah neofeodalisme, korupsi, dan kejam,
yang berlanjut sampai era SBY ini.
Ada persamaan kultur politik era SBY-Boed
sekarang dengan di masa Orde Baru yakni bentuknya diktator dengan sistem
oligarki. Bagi-bagi lahan, tak boleh ada oposisi, dan sebagainya. Mereka tahu,
asal bagi lahan dan semua diajak masuk, oligarki itu aman. Belum ada bagian
dari oligarki yang berani keluar dan berbuat sesuatu. Situasi ini mungkin akan
berubah kalau ada krisis ekonomi lagi. Sungguh ngeri,
[tempointeraktif/rimanews/forumdetik/kaskus/yahoonews].
Bagaimana pendapat anda terhadap hal-hal diatas!? Para oposan dan kaum antipolitik kekerabatan yang penuh kkn tentu saja mengaminkan
pendapat Gurubesar Cornell University, AS tersebut. Tetapi, mereka yang
(katanya) cinta negeri dan berjiwa nasionalis,
serta berpihak kepada rezim yang
sekarang, (pasti) menilai pendapat Ben Anderson
sebagai sesuatu yang mengada-ada. Lihat saja, sebentar lagi akan muncul reaksi
negatif dari mereka.
Tapi, jika kita mau sedikit jernih berpikir, maka, menurutku, pendapat Ben
Anderson tersebut ada benarnya; ada banyak bukti dan fakta bahwa hal-hal yang
disampaikanyan itu terjadi serta sementara berlangsung di negeri ini. Jika
menyimak makna, isi, dan muatan (apa itu) politik, maka tentu saja (kita) tak
bisa menolak pendapat Ben Anderson.
Politik [Indonesia], politic, [Inggris] adalah padanan politeia atau warga
kota [Yunani, polis atau kota, negara, negara kota]; dan civitas [Latin]
artinya kota atau negara; siyasah [Arab] artinya seni atau ilmu mengendalikan
manusia, perorangan dan kelompok.
Secara sederhana, politik berarti seni pemerintah memerintah; ilmu
memerintah; cara pengusaha menguasai. Makna politiknya semakin dikembangkan
sesuai perkembangan peradaban dan meluasnya wawasan berpikir. Politik
tidak lagi terbatas pada seni memerintah agar terciptanya keteratuaran dan
ketertiban dalam masyarakat polis; melainkan lebih dari itu.
Dengan demikian, politik adalah kegiatan [rencana, tindakan, kata-kata,
perilaku, strategi] yang dilakukan oleh politisi untuk mempengaruhi,
memerintah, dan menguasai orang lain ataupun kelompok, sehingga pada diri
mereka [yang dikuasai] muncul atau terjadi ikatan, ketaatan dan loyalitas
[walaupun, yang sering terjadi adalah ikatan semu; ketaatan semu; dan loyalitas
semu].
Dengan itu, dalam politik ada hubungan antar manusia yang memunculkan
menguasai dan dikuasai; mempengaruhi dan dipengaruhi karena kesamaan
kepentingan dan tujuan yang akan dicapai. Ada berbagai tujuan dan kepentingan
pada dunia politik, dan sekaligus mempengaruhi perilaku politikus.
Politik juga memunculkan pembagian pemerintahan dan kekuasaan, demokrasi
[dalam berbagai bentuk], pemerataan dan kesimbangan kepemimpian wilayah, dan
lain sebagainya. Hal itu menjadikan pembagian kekuasaan [atau pengaturan?]
legislatif [parlemen, kumpulan para politisi]; eksekutif [pemerintah]; dan
yudikatif [para penegak hukum]; agar adanya ketertiban dan keteraturan dalam
masyarakat.
Jadi, jika dalam/dan melalui politik, ada sejumlah besar keuntungan (bukan
saja untuk diri sendiri, namun menjalar juga ke/pada semua nepotir), maka orang
(siapa pun) bisa tergoda di/dalamnya; dalam arti akan dan inging meraih
keuntungan dari/melalui poltik. Oleh sebab itu, jika ada investasi melalui
politik dan kegiatan politik, serta ketika kekuasaan
dapat diraih (melalui kegiatan
politik), maka ada upaya untuk menarik kembali investasi yang telah ditanam, sekaligus
keuntungan yang berlipat ganda. Akibatnya memunculkan politis-politisi (seperti yang disampaikan Ben Anderson),
hasil karbitan, dan tanpa orientasi yang holistik terhadap permasalahan dan pergumulan rakyat.
Dengan demikian, politisi seperti itu, sebetulnya menunjukkan bahwa dirinya
tidak mampu dan ketidakterampilan berpolitik. Ia hanya mempunyai motivasi untuk
mencari untung dari kedudukan serta kekuasaan politik, dalam rangka memperkaya
diri sendiri sekaligus mencari nama. Politisi seperti itu, tidak mempunyai
kepekaan terhadap permasalahan dan pergumulan umat manusia atau masyarakat
luas. Jika ada yang ia perjuangkan, maka hanya akan memperhatikan atau demi
kepentingan orang-orang tertentu seperti mereka yang se-golongan, se-ras,
se-agama dengannya, di luar itu adalah yang
lain; dan biarlah Yang Lain mengurus yang lain atau malah tak terurus.
Cukup lah …


0 komentar: